The Epic of Gilgamesh, Karya Sastra Tertua di Dunia

Veridial
02 August 2024 10:58 WIB

Sender.co.id - Epic of Gilgamesh adalah puisi kuno dari Mesopotamia, diperkirakan mulai ditulis sekitar empat ribu tahun yang lalu. Karya ini tidak dibuat oleh satu orang saja, melainkan hasil dari berbagai narasi lisan dan teks tertulis yang dikumpulkan selama lebih dari seribu tahun. Epic of Gilgamesh dianggap sebagai salah satu karya sastra tertua yang pernah ada.

 

Pada awalnya, Epic of Gilgamesh tidak dikenal di dunia Barat. Namun, pada tahun 1872, seorang arkeolog menemukan beberapa batu bertulisan dengan bahasa Akadia, bahasa yang digunakan oleh bangsa Babilonia Kuno. Kemudian, Epic of Gilgamesh diterbitkan pada tahun 1891 dan 1930.

 

Puisi epik ini menceritakan kisah Raja Gilgamesh yang legendaris, mencakup tema-tema seperti persahabatan, pencarian keabadian, dan hubungan antara dewa dan manusia. Cerita ini mencakup berbagai tema, termasuk sifat persahabatan, pencarian keabadian, dan hubungan antara dewa dan manusia.

 

Salinan bagian dari cerita ini telah ditemukan di Israel, Suriah, dan Turki. Selain itu, ada referensi tentang tokoh Gilgamesh dalam literatur Yunani dan Romawi.

 

Menurut Yale University, puisi ini dimulai dengan kisah seorang raja bernama Gilgamesh, yang ibunya adalah seorang dewi. Dia memerintah kota Uruk, yang sekarang dikenal sebagai Warka di Irak selatan.

 

Sebagai pejuang hebat, Gilgamesh membangun kota yang megah menggunakan batu bata berlapis kaca, sebuah teknik yang baru pada masanya. Namun, ia juga dikenal sebagai penguasa yang tiran dan sering menganiaya para pengantin pada hari pernikahan mereka.

 

Karena kelakuannya yang kejam, para dewa menciptakan seorang manusia liar bernama Enkidu untuk menghentikan Gilgamesh. Enkidu dibuat dari tanah liat oleh ibu dewi dan pada awalnya adalah makhluk liar yang hidup bersama binatang.

 

Seorang pelayan kuil di Uruk berhasil menaklukkan Enkidu dengan bercinta dengannya selama tujuh hari tujuh malam. Setelah itu, Enkidu menjadi lebih manusiawi dan belajar memakai pakaian serta makan makanan manusia.

 

Gilgamesh dan Enkidu menjadi sahabat. Namun, saat Enkidu mencoba menghentikan Gilgamesh dari melakukan kejahatan, mereka bertarung. Meski begitu, mereka kemudian bekerja sama untuk membunuh seekor Banteng surgawi, yang membuat para dewa marah dan menghukum Enkidu dengan kematian. Kehilangan Enkidu membuat Gilgamesh sangat berduka, sehingga ia memulai pencarian untuk menemukan rahasia keabadian.

 

Gilgamesh akhirnya bertemu dengan Utnapishtim, seorang manusia yang telah diberikan keabadian oleh para dewa setelah selamat dari banjir besar. Utnapishtim memberi tahu Gilgamesh bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan kematian. Meskipun Gilgamesh menemukan tanaman yang bisa memberikan awet muda, tanaman tersebut akhirnya dicuri oleh seekor ular.

 

Gilgamesh kembali ke Uruk dengan pemahaman baru bahwa kematian adalah takdir yang tak terhindarkan bagi semua manusia. Ini membuatnya menjadi penguasa yang lebih bijaksana di kemudian hari. (DY)

 

 

Sc: literamediatama.com

 

Tag

Komentar