Suara Muslim di Amerika jadi Faktor Trump Unggul Dibanding Kamala di Pemilu AS

Diana Margarini
07 November 2024 22:48 WIB

Sender.co.id - Donald Trump kembali raih kemenangan dalam pemilu Amerika Serikat (AS) pada Selasa (5/11/2024). Salah satu faktor yang menjadi sorotan yaitu suara Muslim Amerika. Hal ini diakui oleh Trump dalam pidato deklarasi kemenangannya. Trump menyebut kelompok Muslim merupakan salah satu pihak yang mendukungnya hingga kembali menang sebagai presiden ke-47 AS.

"Mereka datang dari seluruh penjuru, serikat, non-serikat, Afrika Amerika, Hispanik Amerika, Asia Amerika, Arab Amerika, Muslim Amerika, Kami memiliki semua orang. Dan itu indah," ujarnya

Berdasarkan pernyataan Anadolu Agency, Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) bereaksi atas kemenangan Trump. Direktur Eksekutif Nasional kelompok tersebut, Nihad Awad mengatakan, Trump telah berjanji untuk mengakhiri pertumpahan darah di Gaza.

Nihad mengutuk kebijakan mantan Presiden AS yang mendatangkan malapetaka di dunia Muslim. Seperti George Bush dan Wakil Presidennya Dick Cheney.

"Penting bagi Presiden Terpilih Trump untuk sekarang mengakui bahwa sebagian besar orang Amerika, termasuk Muslim Amerika yang mendukungnya, tidak ingin melihat lebih banyak kefanatikan di dalam negeri atau lebih banyak perang di luar negeri," kata Nihad.

Nihad pun meminta agar Trump benar-benar memperhatikan kepentingan warga muslim. Ia mendesak Trump benar-benar mengedepankan perdamaian dunia dalam kebijakan luar negeri Washington nantinya.

"Ke depannya, kami berharap semua pejabat terpilih untuk benar-benar menanggapi masalah mendesak para pemilih Muslim. Ini termasuk Presiden Terpilih Trump," katanya.

Ia menujukan pernyataanya kepada Partai Demokrat yang menjadi kendaraan lawan Trump, Kamala Harris. Menurutnya, kekalahan Kamala terjadi karena sikap Gedung Putih, yang saat ini dikuasai Partai Demokrat, atas kekerasan di Gaza.

"Presiden terpilih harus memenuhi janji kampanyenya untuk mengejar perdamaian di luar negeri, termasuk dengan mengakhiri perang di Gaza," ujarnya.

"Namun, ini harus menjadi perdamaian sejati yang didasarkan pada keadilan, kebebasan, dan negara bagi rakyat Palestina," sambungnya.

Aktivis Arab di Dearborn, Michigan, Muslim Amerika menjelaskan bahwa Kamala mengabaikan seruan kelompok tersebut untuk mempertimbangkan kembali dukungan tanpa syarat terhadap Israel. Merujuk pada Associated Press (AP), Michigan adalah satu satu negara yang memiliki banyak warga Muslim, dan menjadi negara penentu kemenangan pemilu AS.

"Genosida adalah politik yang buruk," ujar salah satu aktivis.

Menurutnya, Kamala terus menegaskan apa yang disebutnya sebagai "hak Israel untuk mempertahankan diri". Padahal terjadi kekejaman brutal di Gaza dan Lebanon.

"Salah satu alasan Harris kalah adalah keputusannya untuk memihak Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dengan mengorbankan basis Demokrat, Arab dan Muslim Amerika serta kaum muda dan kaum progresif," kata aktivis Adam Abusalah.

"Itu bukan salah kami. Mereka tidak bisa menjelek-jelekkan komunitas kami," sambungnya.

Seorang konsultan politik Amerika keturunan Lebanon di wilayah Detroit, Hussein, mengaku tak mengetahui apa arti kepresidenan Trump bagi warga Arab dan Muslim Amerika serta negara secara keseluruhan. Namun ia berharap sesuatu yang baik akan terjadi.

"Saya harap itu sesuatu yang baik. Saya berharap negara ini bisa bersatu. Saya berharap Partai Demokrat sadar," katanya.

Sebelumnya, Trump resmi menyatakan dirinya unggul sebagai pemenang dalam pilpres Amerika Serikat (AS). Ia mendeklarasikan kemenangannya setelah melewati ambang batas electoral college 270 suara mengalahkan pesaingnya dari Partai Demokrat, Kamala.

Trump sudah mengantongi sebanyak 295 suara elektoral. Sementara Kamala hanya 226. Trump juga menang di popular vote. Di mana dirinya mengantongi 73.523.637 suara (50,92%). Sedangkan Kamala hanya 68.683.845 suara (47,57%). (DA)

Komentar