Harga Minyak Dunia Meroket Usai Iran 'Rudal' Israel

Divson
03 October 2024 13:00 WIB

Sender.co.id - Harga minyak mentah dunia meningkat 1 persen pada perdagangan Rabu (2/10) setelah Iran meluncurkan serangan rudal balistik ke Israel.

Kenaikan harga ini disebabkan oleh kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah bisa meluas menjadi perang yang lebih besar dan mengganggu pasokan minyak dari wilayah penghasil utama.

Harga minyak mentah berjangka Brent naik sebesar 83 sen atau 1,13 persen menjadi US$74,39 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 88 sen atau 1,26 persen menjadi US$70,71 per barel.

Serangan Iran melibatkan lebih dari 180 rudal balistik yang diluncurkan ke Israel sebagai balasan atas serangan Israel terhadap Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Gaza.

Iran, yang merupakan anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), adalah salah satu produsen minyak utama di kawasan tersebut.

"Keterlibatan langsung Iran, anggota OPEC, meningkatkan prospek gangguan pasokan minyak," kata analis ANZ Research dikutip Reuters.

Produksi minyak Iran naik ke level tertinggi dalam enam tahun terakhir, yakni sebesar 3,7 juta barel per hari.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berjanji Iran akan membayar atas serangan ke negaranya. Di sisi lain, Teheran memastikan setiap tindakan balasan dari Israel akan dibalas dengan 'kehancuran besar'. Sikap dua negara tersebut menimbulkan kekhawatiran akan perang yang lebih luas.

Presiden AS Joe Biden menyatakan dukungan penuh AS untuk Israel, sekutu setianya. Sementara, Dewan Keamanan PBB menjadwalkan pertemuan mengenai Timur Tengah pada hari ini.

"Eskalasi besar oleh Iran berisiko membawa AS ke dalam perang," kata analis Capital Economics.

"Iran menyumbang sekitar 4 persen dari produksi minyak global, tetapi pertimbangan penting adalah apakah Arab Saudi akan meningkatkan produksi jika pasokan Iran terganggu," imbuh laporan riset mereka.

OPEC+ juga berencana menggelar pertemuan hari ini untuk meninjau kondisi pasar minyak global. Mulai Desember, OPEC+ yang mencakup Rusia, akan menaikkan produksi sebesar 180 ribu barel per hari (bpd) per bulan.

Analis berharap jika produksi OPEC+ dikerek maka dapat mengimbangi kekhawatiran gangguan pasokan di Timur Tengah. (DV)

Komentar