BMKG Ingatkan Ancaman Gempa Megathrust, Berpotensi Capai M 8,9

Veridial
13 August 2024 18:10 WIB

Sender.co.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa gempa megathrust di Indonesia merupakan ancaman yang hanya menunggu waktu.

 

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menyampaikan kekhawatiran para ilmuwan Indonesia mengenai celah seismik di Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Mentawai-Siberut.

 

Seismic gap merupakan area di sepanjang batas lempeng aktif yang tidak mengalami gempa besar selama lebih dari 30 tahun. BMKG memproyeksikan bahwa Megathrust Selat Sunda dapat memicu gempa berkekuatan hingga M 8,7, sedangkan Megathrust Mentawai-Siberut dapat mencapai M 8,9.

 

"Rilis gempa di kedua segmen megathrust ini tinggal menunggu waktu, karena kedua wilayah tersebut telah lama tidak mengalami gempa besar," ujar Daryono dalam pernyataan resminya pada Minggu (11/8/2024).

 

Menurut Widjo Kongko, Perekayasa di Balai Teknologi Infrastruktur Pelabuhan dan Dinamika Pantai Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Megathrust Selat Sunda memiliki potensi menyebabkan gempa besar hingga M 8,7.

 

Namun, tidak menutup kemungkinan gempa di wilayah ini bisa mencapai M 9 atau lebih besar jika terjadi bersamaan dengan segmentasi lainnya, seperti Megathrust Enggano di Bengkulu dan Megathrust Jawa Barat-Tengah.

 

"Energi yang dihasilkan dari gempa potensial ini serupa dengan gempa bumi dan tsunami Aceh 2004," jelas Widjo, seperti dilansir Kompas.com, Selasa (18/1/2022). Dia juga menambahkan bahwa Megathrust Selat Sunda dapat memicu tsunami yang lebih tinggi, sebanding dengan gempa M 9,3 di Aceh pada tahun 2004.

 

Megathrust Mentawai-Siberut juga memiliki potensi memicu gempa besar di masa depan, dengan catatan sejarah bencana sejak tahun 1994. Wilayah Sumatera ini pernah mengalami gempa M 8,5 di Nias pada 1994, M 7,9 di Lampung-Bengkulu pada tahun 2000, M 9,3 di Aceh pada tahun 2004, dan M 8,7 di Bengkulu.

 

Pada tanggal 25 April 2023, gempa M 7,3 terjadi di Kepulauan Mentawai, yang dianggap sebagai bagian dari rangkaian gempa yang telah diprediksi oleh para ilmuwan. "Energi gempa bumi terkonsentrasi di segmen Megathrust Mentawai-Siberut dan belum dilepaskan di wilayah Sumatera," jelas Daryono.

 

seperti dikutip dari Kompas.com, Selasa. "Segmen Mentawai-Siberut merupakan satu-satunya yang belum melepaskan energi gempanya. Jadi, gempa yang terjadi hari ini merupakan bagian dari rangkaian gempa di zona megathrust Mentawai-Siberut," tambahnya.

 

Gempa terbesar yang dipicu oleh Megathrust Mentawai-Siberut terjadi pada tanggal 10 Februari 1797, dengan kekuatan mencapai M 8,5 dan menyebabkan tsunami besar yang menewaskan lebih dari 300 orang.

 

"Sudah lebih dari 300 tahun zona ini tidak mengalami gempa besar, sehingga wajar jika para ahli menganggap zona ini sebagai 'the big one' yang menjadi perhatian para ilmuwan," imbuh Daryono.

 

Mengenai potensi gempa besar dan tsunami akibat megathrust, Daryono menyatakan bahwa BMKG telah menyiapkan sistem pemantauan, pemrosesan, dan penyebaran informasi gempa bumi serta peringatan dini tsunami yang semakin cepat dan akurat.

 

Upaya lainnya meliputi edukasi, pelatihan mitigasi, simulasi evakuasi berbasis pemodelan tsunami kepada pemerintah daerah, pemangku kepentingan, masyarakat, pelaku usaha pariwisata pantai, industri pantai, dan infrastruktur penting seperti pelabuhan dan bandara pantai.

 

Kegiatan ini dikemas dalam program Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami (SLG), BMKG Goes To School (BGTS), serta pembentukan Masyarakat Siaga Tsunami atau Tsunami Ready Community.

 

"Harapannya, upaya kita dalam memitigasi bencana gempa bumi dan tsunami dapat berhasil dengan meminimalkan risiko dampak bencana yang mungkin terjadi, bahkan mencapai zero victim," kata Daryono. (DY)

 

Sc: kompas.com

 

Tag

Komentar