Azan dengan Running Text saat Tayangan Misa Paus Fransiskus, Pemuda Muhammadiyah Tak Masalah

Veridial
04 September 2024 13:14 WIB


Sender.co.id - Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah turut angkat bicara soal surat Kementerian Agama (Kemenag) kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) supaya televisi menayangkan azan Magrib dalam bentuk teks berjalan atau running text seiring siaran langsung misa bersama Paus Fransiskus, Kamis besok (5/9).

 

Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Anderyan Noor mendukung hal itu sebagai langkah toleransi beragama dan untuk menghormati umat Katolik.

"Dengan demikian, pada momen ini tayangan kumandang azan tidak ditampilkan seperti biasanya," kata Anderyan Noor dalam keterangan tertulisnya, Rabu (4/9).

Ia mengaku tidak masalah digantinya siaran azan dengan running text di televisi.

"Karena itu juga  azan elektronik, bukan suara langsung dari masjid. Azan di masjid tetap berkumandang sebagai ajakan salat yang sesungguhnya," katanya.

Menurutnya, sebagai masyarakat mayoritas umat Islam perlu memberikan toleransi kepada kaum minoritas dengan tidak mengumandangkan azan di televisi.

 

"Lagi pula dari 365 hari masa sehari saja untuk toleransi kita tidak mau menghormati saudara kita untuk beribadah," tutupnya.

 

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dianggap tidak peka terhadap situasi masyarakat dengan mengeluarkan imbauan yang dapat menimbulkan reaksi.

 

Menurut komunikolog politik dan hukum nasional, Tamil Selvan alias Kang Tamil, tidak ada urgensinya azan di televisi diganti dengan running text. Mengingat, azan di televisi dianggap tidak menggangu.

"Sebenarnya ini bentuk 'kelatahan' pejabat publik yang menangapi semua hal tanpa melakukan kajian," kata Tamil dikutip RMOL, Rabu (4/9).

Akademisi Universitas Dian Nusantara ini menilai, pejabat publik saat ini terlalu percaya diri dan lupa bahwa dengan berbagai persoalan politik belakangan ini, tingkat kepercayaan publik kepada pejabat negara sangat menurun.

"Jadi ini bukan soal kebijakan benar atau tidak, tapi harus ditimbang urgensi dari kebijakan itu dan peluang menimbulkan riak-riaknya," kata Kang Tamil.

"Kita jangan lupa, banyak pihak yang phobia dengan yang beginian. Kalau nanti ada aksi saat kedatangan Paus, apakah kita tidak malu dengan dunia internasional? Ini yang tidak dipahami Kominfo," pungkas Kang Tamil. (VE)

 

Tag

Komentar